Reformasi Birokrasi sebagai Proses yang Hidup: Sekda Grobogan Pimpin Penyusunan Rencana Aksi

Purwodadi— Membangun birokrasi yang adaptif bukanlah pekerjaan yang bisa rampung dalam satu malam. Ia menuntut keberanian untuk meninjau kembali langkah-langkah yang telah diambil, menilai capaian dengan jujur, dan menyesuaikan arah kebijakan dengan tantangan yang terus berubah. Di sinilah reformasi birokrasi menemukan maknanya—sebagai proses yang bergerak dan terus bertransformasi. Selasa (20/5/2025), Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Grobogan, Anang Armunanto, memimpin fasilitasi penyusunan rencana aksi (renaksi) reformasi birokrasi di Gedung Riptaloka. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian Organisasi Sekretariat Daerah (Setda) ini menghadirkan narasumber dari Kementerian PANRB, Arif Lukman Hakim. Lebih dari sekadar merumuskan strategi, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus titik tolak untuk menata kembali arah perjalanan reformasi birokrasi di daerah. Dalam arahannya, Sekda menegaskan pentingnya membangun komunikasi yang aktif dan konstruktif antara Pemkab Grobogan dengan Kementerian PANRB. Menurutnya, renaksi tidak boleh hanya menjadi dokumen formal, tetapi harus hadir sebagai pedoman yang kontekstual dan aplikatif, mencerminkan kebutuhan serta dinamika birokrasi di lapangan. “Komunikasi dengan KemenPANRB perlu terus dioptimalkan agar langkah kita terarah. Evaluasi capaian 2024 menjadi dasar yang penting untuk menyusun target yang realistis dan berdampak di tahun 2025,” ujar Sekda. Arif Lukman Hakim menggarisbawahi bahwa reformasi birokrasi adalah proses jangka panjang yang menuntut konsistensi dan keterbukaan terhadap perubahan. “Adjustment menjadi penting karena RB adalah proses yang berjalan”, terangnya. Ia mencontohkan, “Ketika kebutuhan kebijakan sudah kita lalui, maka tahap berikutnya adalah monitoring dan evaluasi”. Ia menambahkan bahwa renaksi perlu disusun secara cermat dan melekat pada proses kerja setiap unit, agar dapat benar-benar mendukung perbaikan kinerja birokrasi. Lebih jauh, Arif mendorong agar pembangunan Zona Integritas dijadikan prioritas utama. Ia menekankan bahwa keberhasilan reformasi birokrasi bukan hanya soal kepatuhan pada aturan, melainkan soal bagaimana pemerintah daerah menghadirkan kepercayaan publik melalui perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui fasilitasi ini, Pemkab Grobogan menunjukkan kesungguhan untuk tidak berhenti pada rutinitas administratif. Yang dibenahi bukan hanya sistem, tetapi juga cara pandang—bahwa birokrasi bukan sekadar urusan prosedur, melainkan instrumen untuk mewujudkan harapan warga akan pelayanan yang transparan, responsif, dan berkualitas. Reformasi birokrasi memang bukan tugas ringan. Namun di balik kompleksitas dan tantangannya, ada semangat yang tidak boleh padam: semangat untuk terus bergerak, menyesuaikan diri, dan menjadikan birokrasi sebagai bagian dari solusi, bukan penghambat. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya ingin birokrasi yang bekerja, tetapi birokrasi yang mampu memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. (jsa)
Wakil Bupati Grobogan Pimpin Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-117: Serukan Semangat Persatuan dan Ketangguhan Bangsa

Pemerintah Kabupaten Grobogan menggelar upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-117 dengan khidmat di Halaman Setda Grobogan, Selasa pagi (20/05/2025). Upacara yang dihadiri oleh jajaran Forkopimda dan ASN ini dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Grobogan, yang menyampaikan sambutan sarat makna dan semangat kebangsaan. Dalam amanatnya, Wakil Bupati menegaskan bahwa peringatan 20 Mei bukan sekadar rutinitas tahunan dalam kalender nasional, tetapi merupakan momen penting untuk kembali membuka lembaran sejarah perjuangan bangsa—sejarah yang ditulis dengan semangat persatuan, kesadaran kolektif, dan keberanian untuk bangkit dari penjajahan. “117 tahun yang lalu, di tengah keterbatasan dan tekanan kolonialisme, lahirlah kesadaran baru yang menyalakan api perubahan melalui pendirian Budi Utomo. Sebuah langkah awal dari keyakinan bahwa kemajuan hanya mungkin dicapai bila kita berdiri di atas kekuatan kita sendiri,” ucapnya di hadapan peserta upacara. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kebangkitan nasional bukanlah sekadar peristiwa sejarah, melainkan proses berkelanjutan yang menuntut keberanian menghadapi tantangan zaman modern. Ia menyinggung berbagai tantangan kontemporer seperti disrupsi teknologi, krisis pangan global, dan ancaman terhadap kedaulatan digital sebagai ujian baru bagi semangat kebangsaan. Mengutip Undang-Undang ITE No. 11 Tahun 2008 Pasal 5 ayat 1, Wakil Bupati juga menekankan pentingnya transformasi digital yang bertanggung jawab dan menjadi bagian dari alat bukti sah dalam proses hukum, menunjukkan kesadaran akan peran hukum dalam era informasi. Pada bagian sambutannya, Wakil Bupati juga menggarisbawahi posisi Indonesia dalam kancah internasional yang terus konsisten dengan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Indonesia, kata dia, bukan hanya pemain pasif, tetapi mitra terpercaya yang aktif membangun dialog dan membawa solusi dalam berbagai forum dunia. “Indonesia hadir bukan sekadar menyuarakan kepentingan nasional, tetapi membawa gagasan yang memberi manfaat bersama. Di tengah polarisasi dunia, kita tampil sebagai jembatan kepentingan dan mitra yang dapat diandalkan,” lanjutnya. Di sisi pembangunan nasional, ia menyoroti langkah awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang fokus pada kebutuhan mendasar rakyat. Ia mengapresiasi Program Makan Bergizi Gratis yang telah menjangkau lebih dari 3,5 juta anak Indonesia sebagai salah satu fondasi kebangkitan yang sesungguhnya. “Kami percaya, kebangkitan yang besar dimulai dari hal-hal sederhana: dari kehidupan yang tenang, perut yang kenyang, dan hati yang lapang,” ujarnya dengan penuh haru. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong royong dan persatuan di tengah masyarakat Grobogan, sekaligus sebagai refleksi bahwa semangat kebangkitan harus terus hidup dan relevan dalam menjawab tantangan zaman. Upacara ditutup dengan persembahan lagu-lagu kebangsaan dan pembacaan doa bersama, menegaskan harapan akan masa depan Indonesia yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing.